TRABASNEWS — Kondisi para pengungsi terdampak banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, masih memprihatinkan. Minimnya suplai bantuan membuat sebagian warga terpaksa mengonsumsi air hujan yang tergenang dan air sungai yang keruh demi bertahan hidup.
Di Kecamatan Kejuruan Muda, salah satu pengungsi bernama Rizki menyebutkan bantuan yang masuk belum mencukupi kebutuhan ribuan warga yang tersebar di sejumlah titik. Ia mengungkapkan lebih dari 36 ribu pengungsi di wilayah itu belum sepenuhnya tersentuh bantuan logistik.
Pengungsi yang tidak mendapatkan suplai makanan dan air bersih kini menghadapi kondisi kelaparan. Mereka bahkan terpaksa meminum air sungai yang tidak layak konsumsi.
Sementara itu, Juru Bicara Pemkab Aceh Tamiang, Agusliayana Devita, mengonfirmasi bahwa situasi di lapangan masih jauh dari stabil. Banyak wilayah yang terputus akses akibat kerusakan infrastruktur dan genangan lumpur yang belum surut.
Ia menjelaskan bahwa sebagian warga yang terisolasi memilih memanfaatkan air hujan yang tergenang ataupun air sungai, meski kualitasnya tidak jernih. Hal ini terjadi karena jaringan air bersih PDAM belum kembali beroperasi.
Agusliayana menekankan bahwa kebutuhan mendesak para pengungsi mencakup logistik, bahan bakar, obat-obatan, serta suplai air bersih. Distribusi bantuan saat ini dilakukan melalui udara menggunakan helikopter dan lewat jalur sungai dengan perahu karet.
Hingga kini, jumlah pengungsi di Aceh Tamiang tercatat mencapai 215.652 jiwa. Sementara itu, korban meninggal dunia akibat bencana banjir bandang ini telah bertambah menjadi 39 orang.
Sumber: CNN Indonesia


















