TRABASNEWS – Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memastikan ketersediaan dan harga kebutuhan pokok masyarakat tetap terjaga menjelang bulan suci Ramadan hingga Hari Raya Idulfitri 2026. Kepastian tersebut didukung oleh kondisi stok pangan daerah yang saat ini berada dalam status surplus.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumut, Timur Tumanggor, menyampaikan bahwa Pemprov Sumut telah menyiapkan berbagai langkah pengendalian harga melalui Program Jaminan Kestabilan Harga Komoditas Pangan (Jaskop).
“Dengan kondisi stok pangan yang surplus, kami optimistis harga bahan pokok menjelang Ramadan dan Idulfitri tetap stabil dan tidak mengalami lonjakan signifikan,” ujar Timur, Kamis (22/1/2026).
Sepanjang tahun 2025, Sumatera Utara mencatat produksi beras mencapai lebih dari 2,22 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi masyarakat berada di kisaran 1,7 juta ton per tahun. Dengan demikian, terdapat surplus sekitar 501 ribu ton, yang juga memungkinkan Sumut menjadi salah satu daerah pemasok beras ke provinsi lain.
Tidak hanya beras, sejumlah komoditas strategis lainnya juga menunjukkan kondisi surplus. Produksi cabai merah tercatat sekitar 134 ribu ton, jagung 135 ribu ton, dan cabai rawit mencapai 65 ribu ton. Meski demikian, Timur mengakui harga cabai merah masih berpotensi mengalami fluktuasi karena sebagian hasil panen dipasarkan ke daerah lain dengan harga lebih tinggi.
“Untuk komoditas cabai merah, kami melakukan intervensi saat musim panen agar pasokan lokal tetap terjaga dan harga tidak melonjak,” jelasnya.
Sebagai langkah penguatan produksi, Pemprov Sumut mengembangkan kawasan unggulan padi di beberapa daerah seperti Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Asahan. Sementara untuk cabai merah, pengembangan difokuskan di Kabupaten Karo dan Batu Bara.
Intervensi dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk, hingga bantuan benih, guna memastikan produksi pangan tetap berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah daerah juga bergerak cepat dalam memulihkan lahan pertanian yang terdampak bencana. Data mencatat sekitar 31.123 hektare lahan pertanian di Sumut mengalami kerusakan dengan kategori ringan hingga berat.
“Di Kecamatan Tukka, Sibolga, terdapat 94 hektare lahan yang terdampak dan sudah kami lakukan penanaman ulang. Untuk wilayah lain dengan kerusakan sedang dan berat juga akan segera diintervensi melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota,” kata Timur.
Ia berharap proses pemulihan lahan tersebut tidak berdampak signifikan terhadap hasil panen tahun ini, sehingga ketahanan pangan Sumut tetap terjaga dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara optimal.
Sumber: VIVA Medan

















