TRABASNEWS– Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terus bertambah. Hingga Rabu (2/9/2026) pagi, sebanyak 512 orang dilaporkan mengalami gejala dan mendapatkan penanganan medis.
Ratusan santri dan pelajar tersebut diketahui berasal dari 19 lembaga pendidikan yang menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengatakan jumlah tersebut merupakan laporan sementara yang dihimpun pemerintah hingga Rabu pagi.
“Pagi ini ada 512 pasien yang dilaporkan mendapatkan penanganan di rumah sakit. Mereka berasal dari 19 lembaga yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah,” ujar Emil.
Menurut Emil, tidak seluruh pasien harus menjalani rawat inap. Dari 512 orang yang mendapat penanganan, sebanyak 80 pasien masih dirawat di rumah sakit, sementara 312 lainnya telah diperbolehkan kembali ke rumah.
“Sebanyak 80 pasien masih menjalani rawat inap, kemudian 312 sudah diperbolehkan pulang dan 120 lainnya masih dalam tahap observasi,” katanya.
Penanganan pasien dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan di Sidoarjo. Rumah sakit dengan jumlah pasien terbanyak adalah RS Notopuro yang menangani 334 orang.
Dari jumlah tersebut, tiga pasien masih menjalani rawat inap, 239 pasien telah keluar dari rumah sakit, sedangkan 92 lainnya masih menjalani observasi.
Selanjutnya, RS Delta Surya menangani 20 pasien dengan rincian 15 orang dirawat, satu pasien telah pulang dan empat pasien masih menjalani observasi.
RS Siti Hajar tercatat menangani 77 pasien. Sebanyak 38 pasien masih menjalani perawatan dan 39 lainnya telah diperbolehkan pulang.
Kemudian RS Pusura menangani 18 pasien, dengan sembilan orang menjalani rawat inap, empat pasien telah pulang dan lima lainnya masih diobservasi.
RSU Aisyiyah Siti Fatimah menangani 47 pasien. Sebanyak empat pasien masih dirawat, 28 pasien telah pulang dan 15 lainnya menjalani observasi.
Sementara itu, RS Pusdik Bhayangkara menerima delapan pasien yang seluruhnya masih menjalani rawat inap. RS Arafah Anwar Medika menangani dua pasien yang juga masih dirawat.
Adapun RS Anwar Medika menangani enam pasien. Satu pasien masih menjalani perawatan, satu telah diperbolehkan pulang dan empat lainnya masih dalam pemantauan.
Emil memastikan pemerintah Jawa Timur akan memberikan perhatian penuh terhadap seluruh korban. Biaya pengobatan pasien dalam kasus tersebut juga ditanggung pemerintah.
“Yang paling utama adalah memastikan seluruh pasien mendapatkan pelayanan medis. Untuk kasus ini, biaya penanganannya ditanggung oleh pemerintah,” tegas Emil.
Selain penanganan medis, pemerintah juga melakukan pendataan untuk memastikan tidak ada penerima MBG yang mengalami gejala tetapi belum mendapat pertolongan.
Dinas Pendidikan Jawa Timur diminta melakukan pengecekan terhadap absensi siswa di seluruh lembaga pendidikan yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah.
Emil mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi adanya siswa yang sakit di rumah dan belum mendapatkan pemeriksaan medis.
“Kalau ditemukan ada siswa yang tidak masuk, Dinas Kesehatan melalui puskesmas diminta segera melakukan penjangkauan. Jangan sampai ada yang sakit di rumah tetapi tidak mendapatkan penanganan medis,” ujarnya.
Dugaan keracunan ini masih dalam proses penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti munculnya gejala pada ratusan penerima MBG. Pemerintah juga melakukan evaluasi terhadap proses penyediaan dan distribusi makanan dari SPPG Kalitengah.
Sumber: Tribun Medan























