TRABASNEWS – Nama anggota DPR RI Deddy Sitorus tengah menjadi perbincangan hangat publik. Politikus dari PDI Perjuangan ini ramai dikritik warganet usai melontarkan pernyataan yang dinilai merendahkan masyarakat saat tampil di sebuah program televisi.
Ucapan Deddy yang Menuai Kontroversi
Dalam perbincangan mengenai gaji anggota DPR dan pemotongan iuran Tapera, pembawa acara membandingkan pendapatan legislator dengan pekerja yang berpenghasilan di atas Upah Minimum Regional (UMR). Tanggapan Deddy Sitorus dalam kesempatan tersebut dianggap menyulut emosi publik.
“Ketika DPR dibandingkan dengan rakyat jelata seperti tukang becak dan buruh, itu adalah bentuk sesat logika,” ujar Deddy dalam cuplikan video yang viral di berbagai platform media sosial.
Pernyataan ini memicu reaksi keras dari masyarakat, yang menilai bahwa seorang wakil rakyat seharusnya tidak melupakan asal muasal kekuasaannya: dipilih oleh rakyat. Banyak yang menyayangkan sikap Deddy, terutama di tengah rendahnya kepercayaan publik terhadap parlemen.
Siapa Deddy Sitorus?
Deddy Yevri Hanteru Sitorus lahir di Pematangsiantar pada 17 November 1970. Ia dikenal luas sebagai aktivis sejak akhir era 90-an, dengan keterlibatan dalam beberapa gerakan sosial seperti Komunitas Aksi Solidaritas Buruh Indonesia (1998–2000) dan Koalisi Anti Utang (2000–2001).
Tak hanya bergerak di dunia aktivisme, Deddy juga memiliki pengalaman panjang di dunia korporasi. Ia pernah menjabat sebagai komisaris di sejumlah perusahaan nasional, seperti:
PT Takagama (2009–2018)
PT Optima Consulting Network (2012–2014)
PT Waskita Beton Precast (Komisaris Independen, 2014–2017)
PTPN III (2017–2019)
PT Berkah Multi Cargo (anak perusahaan Pelindo III, 2017–2019)
Karier politik Deddy mulai menanjak setelah bergabung dengan PDI Perjuangan. Ia terpilih sebagai anggota DPR RI pada Pemilu 2019 dan kembali lolos ke Senayan dalam Pemilu 2024.
Saat ini, Deddy menjabat sebagai anggota Komisi VI DPR RI yang menangani urusan perdagangan, industri, investasi, koperasi, UMKM, dan BUMN.
Sumber: Poskota