TRABASNEWS – Inovasi alutsista berbasis kemandirian kembali lahir dari lingkungan TNI Angkatan Darat. Kolonel Arh Nur Rachman, prajurit TNI AD yang bertugas sebagai dosen di Politeknik Angkatan Darat (Poltekad), berhasil mengembangkan sebuah wahana udara tanpa awak bernama Drone Elang, yang dirancang dengan biaya relatif murah dan ramah lingkungan.
Nur Rachman menjelaskan bahwa gagasan menciptakan Drone Elang bermula dari aktivitas perkuliahan yang ia ampu, khususnya pada mata kuliah Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Menurutnya, pengembangan alutsista tidak selalu harus mengandalkan teknologi mahal, selama mampu memberikan fungsi optimal.
“Konsep awalnya sederhana, bagaimana mahasiswa memahami prinsip terbang melalui media yang mudah. Dari situ saya berpikir, mengapa tidak mengadaptasi konsep layang-layang berbentuk burung,” ujar Nur saat ditemui di Kota Batu, Jawa Timur.
Terinspirasi dari perkembangan teknologi ornitopter—wahana terbang yang meniru gerak sayap makhluk hidup—Nur memilih burung sebagai model dasar karena struktur dan prinsip aerodinamikanya dinilai paling sederhana. Ide tersebut kemudian dikembangkan menjadi drone berbentuk elang dengan sayap yang dapat bergerak.
Dalam proses pengembangannya, tantangan terbesar yang dihadapi adalah menjaga keseimbangan agar drone dapat terbang stabil. Berbagai percobaan dilakukan, mulai dari penggunaan kertas hingga plastik, sebelum akhirnya memilih kain poliester seperti bahan payung sebagai sayap. Sementara rangkanya dibuat dari stik pancing berbahan serat fiber agar ringan namun kuat.
“Masalah utamanya keseimbangan. Sama seperti layang-layang, kanan dan kiri harus benar-benar imbang, apalagi saat berhadapan dengan angin,” jelasnya.
Setelah melalui serangkaian uji coba dan kegagalan, Drone Elang akhirnya berhasil diterbangkan. Nur kemudian menambahkan kamera kecil berteknologi First Person View (FPV) yang memungkinkan operator memantau situasi secara langsung melalui kacamata virtual, serta sistem kendali jarak jauh. Drone ini juga dirancang mampu membawa muatan ringan sesuai kebutuhan pembelajaran.
Dari sisi anggaran, biaya pengembangan Drone Elang berkisar antara Rp8 juta hingga Rp10 juta, karena masih difokuskan untuk kepentingan riset dan pendidikan.
Menariknya, Nur mengklaim Drone Elang memiliki keunggulan dari sisi senyap dan rendah jejak deteksi. Dengan desain menyerupai burung dan suara yang minim, drone ini berpotensi mendukung misi pengintaian tanpa mudah terdeteksi radar.
“Inovasi ini tidak hanya mengecoh penglihatan manusia, tetapi juga dirancang agar sulit terdeteksi radar,” ungkap Nur, yang dikenal telah melahirkan ratusan karya inovatif selama pengabdiannya di dunia militer dan pendidikan.
Sumber : Indonesia Defense


















