TRABASNEWS – Pemilik kolam pemancingan di Desa Cindai Alus, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Ahmad Jailani, meminta pertanggungjawaban atas kerugian yang dialaminya setelah air kolam digunakan helikopter water bombing untuk membantu memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pengambilan air untuk operasi pemadaman tersebut menyebabkan debit air kolam milik Jailani turun cukup drastis. Kondisi itu berdampak terhadap ikan yang berada di dalam kolam dan menyebabkan banyak ikan mati.
Jailani mengatakan, kolam yang dikelolanya berisi sekitar dua ton ikan dari berbagai jenis dan selama ini digunakan sebagai tempat pemancingan.
“Kolam saya ini khusus untuk kolam pemancingan, dan isi kolam ini sebanyak dua ton ikan dengan berbagai jenis,” ujar Jailani.
Menurut dia, kondisi ikan mulai terganggu setelah helikopter beberapa kali mengambil air dari kolam. Ikan disebut mengalami stres akibat perubahan kondisi air yang cukup signifikan.
“Karena adanya helikopter tadi ikan menjadi stres dan banyak yang mati,” katanya.
Helikopter Berulang Kali Mengambil Air
Pengambilan air terjadi pada Kamis (27/8/2026), saat tim masih melakukan upaya pemadaman karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.
Jailani mengaku telah berusaha memberi tanda kepada pilot agar tidak mengambil air dari kolam pemancingannya. Namun, tanda tersebut tidak mendapat respons dan helikopter tetap melakukan pengambilan air.
“Sudah kita kasih kode agar jangan mengambil air di kolam ini. Namun, mereka tetap mengambilnya,” ungkap Jailani.
Ia menyebut pengambilan air dilakukan lebih dari satu kali. Akibatnya, volume air kolam semakin berkurang dan kondisi ikan di dalamnya ikut terdampak
Biaya Perawatan Kolam Bertambah Saat Kemarau
Usaha pemancingan tersebut telah dijalankan Jailani sejak 2010. Penghasilan dari usaha itu menjadi salah satu sumber untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Saat musim kemarau, Jailani harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menjaga ketersediaan air. Ia menggunakan mobil pikap yang dilengkapi tandon untuk mengangkut air ke kolam.
“Selama kemarau ini kami berusaha mempertahankan debit air dengan mengisi menggunakan mobil pikap dengan disertai tandon air. Sekali angkut itu saya mengeluarkan biaya sebesar Rp 600.000,” jelasnya.
Jailani menilai penggunaan air kolam untuk operasi pemadaman karhutla telah menimbulkan kerugian bagi usahanya. Karena itu, ia berharap ada penyelesaian dan pertanggungjawaban dari pihak terkait atas dampak yang ditimbulkan.
Ia juga berharap kebutuhan operasi pemadaman karhutla tetap dapat dipenuhi tanpa mengabaikan kondisi masyarakat yang menjadi pemilik sumber air yang digunakan.
Sumber: Kompas























