TRABASNEWS – Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menjadi sorotan setelah video dirinya melakukan wawancara terkait bencana gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) dari sebuah restoran viral di media sosial.
Dalam video yang beredar, Berton terlihat melakukan wawancara dengan sebuah stasiun televisi dari tempat makan. Momen tersebut kemudian memunculkan pertanyaan dari warganet mengenai alasan pejabat BNPB melakukan wawancara dari restoran, bukan dari lokasi penanganan bencana.
Berton kemudian memberikan klarifikasi terkait video tersebut. Ia menjelaskan bahwa wawancara dilakukan sekitar pukul 20.00 Wita ketika dirinya berada di kawasan Labuan Bajo.
Menurut Berton, lokasi restoran tersebut berada tidak jauh dari salah satu pos pendukung logistik BNPB. Ia memilih tempat tersebut karena suasananya relatif sepi dan memiliki koneksi internet yang mendukung pelaksanaan wawancara jarak jauh.
“Saya berada di sekitar Labuan Bajo, dan rumah makan tersebut lokasinya dekat dengan bandara yang menjadi salah satu titik Pos Pendukung Logistik BNPB,” kata Berton.
Berton juga membenarkan bahwa dirinya sempat makan sebelum melakukan wawancara. Namun, ia menegaskan bahwa keberadaannya di restoran bukan berarti sedang meninggalkan tugas penanganan bencana.
“Justru pada saat itu saya tetap menjalankan tugas komunikasi publik,” ujarnya.
Ia menambahkan, wawancara dilakukan setelah pukul 20.00 Wita. Pemilihan tempat yang tenang dinilai penting agar informasi mengenai perkembangan bencana yang telah dihimpunnya dapat disampaikan kepada masyarakat dengan baik.
Berton mengatakan wawancara dari posko atau tenda pengungsian tidak selalu mudah dilakukan. Kondisi di lapangan, termasuk aktivitas penanganan bencana dan keterbatasan jaringan, dapat mengganggu proses komunikasi dengan media.
Penjelasan serupa juga disampaikan Hannura A Suryaningrum, yang mengaku mengenal Berton. Ia menyebut Berton sebelumnya belum makan sejak siang sehingga sempat berhenti di tempat makan.
Menurut Hannura, restoran tersebut juga dipilih karena memiliki suasana yang lebih tenang serta jaringan Wi-Fi yang stabil untuk mendukung wawancara dengan stasiun televisi.
“Beliau menyampaikan pada kondisi tersebut, bapaknya belum makan dari siang,” kata Hannura.
Ia menjelaskan, keberadaan Berton di restoran tidak dapat langsung diartikan bahwa pejabat tersebut sedang bersantai atau meninggalkan tugas penanganan bencana.
“Lokasi kafe tersebut di Labuan Bajo, yang saat ini menjadi salah satu lokasi posko operasi BNPB,” ujarnya.
Klarifikasi tersebut disampaikan setelah video wawancara Berton dari restoran menjadi viral dan menuai berbagai komentar di media sosial.
Kondisi Terkini Gempa Flores
Di tengah polemik video tersebut, penanganan dampak gempa Flores, NTT, masih berlangsung. Berdasarkan data BNPB dan BMKG hingga 23 Agustus 2026, tercatat 5.688 gempa susulan setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7.
Dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 130 gempa dirasakan masyarakat dan 32 gempa memiliki magnitudo di atas 5,0. Gempa susulan terbesar tercatat mencapai magnitudo 6,2.
BNPB juga mencatat korban meninggal dunia akibat bencana tersebut mencapai 87 orang. Sementara itu, sebanyak 1.298 orang mengalami luka-luka, termasuk 336 orang yang mengalami luka berat.
Jumlah warga yang mengungsi juga meningkat menjadi 150.576 jiwa. Kabupaten Manggarai, Nagekeo, dan Manggarai Timur menjadi tiga wilayah dengan jumlah pengungsi terbesar.
Hingga kini, BNPB bersama unsur TNI, Polri, pemerintah daerah, relawan, dan berbagai pihak masih melakukan penanganan serta pendistribusian bantuan kepada masyarakat terdampak.
Sumber: Tribunnews























