TRABASNEWS –Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan masyarakat semakin mengkhawatirkan. Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Indonesia menyebabkan ratusan ribu warga terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), termasuk puluhan ribu anak berusia di bawah lima tahun atau balita.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 21 Oktober 2026, total kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla mencapai 333.470 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 75.172 kasus dialami balita, sementara 258.298 kasus lainnya terjadi pada warga berusia di atas lima tahun.
Menanggapi kondisi tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendesak pemerintah dan seluruh pihak terkait untuk memperkuat perlindungan terhadap anak-anak yang terpapar pencemaran udara akibat karhutla.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Pripim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok rentan yang membutuhkan perhatian dan perlindungan khusus, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat asap kebakaran.
“ Mereka tidak bisa melindungi diri sendiri, tugas kita lah orang dewasa dan negara, untuk memastikan mereka terlindungi,” kata Pripim dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Jumat (23/10/2026).
Menurut IDAI, risiko paparan asap karhutla perlu mendapat perhatian serius, khususnya bagi balita serta anak-anak yang memiliki riwayat asma, penyakit jantung, gangguan paru kronis, maupun disabilitas. Kondisi tersebut dapat membuat mereka lebih rentan mengalami gangguan kesehatan ketika terpapar udara yang tercemar.
IDAI juga mengingatkan orang tua agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan pada anak. Apabila anak mengalami sesak napas berat, tarikan dinding dada, bibir membiru, penurunan kesadaran, atau tidak mampu minum, orang tua diminta segera membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat.
Pripim mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah pencegahan sebelum anak mengalami gangguan kesehatan yang serius.
“Lindungi anak sebelum muncul keluhan. Kenali tanda gawat dan segera cari pertolongan. Evakuasi bila lingkungan tidak lagi aman. Dahulukan kelompok rentan dan lindungi hak anak,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan keluarga, sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan, dan pemerintah dalam menghadapi dampak kabut asap. Langkah perlindungan dapat dimulai dari mengurangi paparan udara luar yang tercemar hingga melakukan evakuasi apabila kondisi lingkungan sudah membahayakan kesehatan.
Sementara itu, Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Then Suyanti, menyampaikan bahwa lonjakan kasus ISPA terjadi di tengah meluasnya pencemaran udara di kawasan terdampak karhutla.
“Berdasarkan data Kemenkes per 21 Oktober 2026, akumulasi kasus ISPA di wilayah terdampak karhutla telah menembus angka 333.470 kasus,” kata Then.
Ia menjelaskan, kasus tersebut tersebar di 68 kabupaten/kota yang berada di tujuh provinsi. Pemerintah telah melakukan sejumlah upaya penanganan, mulai dari menyiapkan fasilitas pelayanan kesehatan, menyediakan rumah oksigen, hingga mengerahkan belasan ribu petugas kesehatan.
Tingginya angka ISPA, terutama pada balita, menjadi peringatan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan dan keselamatan generasi muda.
Karena itu, perlindungan terhadap anak perlu menjadi prioritas dalam penanganan bencana asap, disertai upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan agar masyarakat, khususnya kelompok rentan, tidak terus terpapar pencemaran udara.
Sumber: Kompas






















