TRABASNEWS – Kualitas udara di Kota Medan, Sumatera Utara, memburuk hingga masuk kategori sangat tidak sehat akibat kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir. Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap bagi kesehatan.
Berdasarkan pemantauan di lapangan pada Kamis (15/10/2026), kabut asap terlihat semakin tebal di sejumlah ruas jalan di Kota Medan, di antaranya Jalan Pengadilan, Jalan Imam Bonjol, Jalan Jamin Ginting, hingga Jalan Ngumban Surbakti.
Kepala Balai Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Medan, Hendro Nugroho, mengungkapkan bahwa hasil pengukuran kualitas udara menunjukkan peningkatan konsentrasi partikel polutan yang perlu diwaspadai masyarakat.
“Data PM2.5 yang tercatat di alat kami per pukul 18.00 WIB adalah 154 mikrogram per meter kubik, atau masuk kategori sangat tidak sehat,” kata Hendro Nugroho kepada Kompas.com, Kamis (15/10/2026) malam.
Angka tersebut menunjukkan kondisi udara yang memburuk dibandingkan sehari sebelumnya, ketika kualitas udara di Medan masih berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.
Kabut asap diketahui mulai menyelimuti Kota Medan sejak Selasa (13/10/2026) dan berangsur-angsur semakin pekat. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Hendro mengimbau masyarakat agar membatasi kegiatan di luar ruangan selama kualitas udara masih buruk. Warga juga disarankan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar rumah.
“Apabila kualitas udara memburuk, masyarakat diharapkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker,” ujarnya.
Selain itu, masyarakat diminta menutup pintu dan jendela apabila asap mulai masuk ke dalam rumah. Warga juga disarankan memastikan udara yang masuk ke ruangan lebih bersih serta menghindari aktivitas fisik berat di luar ruangan selama kabut asap berlangsung.
Asap Diduga Terbawa Angin dari Wilayah Lain
Terkait asal-usul kabut asap, hasil pemantauan citra satelit pada Kamis menunjukkan terdapat dua titik panas berkategori sedang di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.
Sementara itu, berdasarkan pengamatan sebaran asap di wilayah Sumatera pada pukul 13.00 WIB, asap terdeteksi memasuki wilayah Sumatera Utara.
Analisis pola angin menunjukkan pergerakan angin dari arah timur hingga tenggara menuju barat laut hingga utara. Pola tersebut mengindikasikan bahwa kabut asap yang menyelimuti Medan berpotensi merupakan kiriman dari wilayah Sumatera bagian selatan dan Kalimantan.
“Namun demikian, penentuan sumber asal asap secara pasti memerlukan analisis lebih lanjut dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer dan data pendukung lainnya,” jelas Hendro.
BMKG menegaskan bahwa pemantauan terhadap kondisi atmosfer dan kualitas udara tetap diperlukan untuk mengetahui perkembangan penyebaran asap serta dampaknya terhadap wilayah Sumatera Utara.
Masyarakat Diminta Waspadai Gangguan Transportasi
Selain berdampak terhadap kesehatan, kabut asap yang semakin tebal juga berpotensi mengganggu aktivitas transportasi akibat berkurangnya jarak pandang.
Hendro mengingatkan masyarakat agar mewaspadai kemungkinan gangguan perjalanan, baik melalui jalur darat, laut, maupun penerbangan.
Pengendara di jalan raya diharapkan lebih berhati-hati, menjaga jarak aman, serta mengurangi kecepatan apabila jarak pandang terbatas akibat kabut asap.
Masyarakat juga diimbau terus mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan perkembangan cuaca dari instansi terkait.
Dengan kondisi udara yang telah masuk kategori sangat tidak sehat, langkah pencegahan dan pembatasan aktivitas di luar ruangan menjadi penting untuk mengurangi risiko paparan polusi.
BMKG berharap masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan langkah perlindungan diri hingga kondisi kualitas udara di Kota Medan kembali membaik.
Sumber: Kompas






















