TRABASNEWS – Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) menjadi perbincangan di media sosial setelah muncul keluhan mengenai harga tiket masuk dan makanan yang dinilai cukup mahal. Kondisi tersebut disebut-sebut turut memengaruhi jumlah pengunjung yang datang ke arena PRSU di Jalan Gatot Subroto, Medan.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Jumat (10/7/2026), loket penjualan tiket terlihat belum ramai. Sebagian besar orang yang memasuki area PRSU diketahui menggunakan kartu identitas (ID Card) atau undangan dari peserta stan maupun tamu dari berbagai kabupaten.
Selain itu, rombongan pelajar yang hadir juga terlihat menggunakan kartu identitas khusus, bukan membeli tiket reguler.
Seorang pengunjung asal Medan Tembung, Sri Lestari, mengaku datang ke PRSU karena ingin menyaksikan penampilan penyanyi Raim Laode.
“Kalau bukan karena ada Bang Raim Laode, mungkin kami tidak datang. Menurut kami semua serba mahal,” ujarnya.
Ia mengaku mengeluarkan biaya sekitar Rp80 ribu untuk tiket masuk dan parkir. Menurutnya, harga makanan di dalam area PRSU juga cukup tinggi.
“Kami tadi makan sekitar Rp70 ribu per orang, padahal hanya ayam penyet dengan nasi dan satu minuman dingin. Porsinya juga menurut kami biasa saja,” katanya.
Sri menilai harga tiket konser sebesar Rp75 ribu belum sebanding dengan hiburan yang ditawarkan.
“Kalau konser lain dengan harga segitu biasanya ada beberapa artis nasional. Di sini saya datang memang karena ingin melihat Bang Raim,” tuturnya.
Pendapat serupa disampaikan pengunjung lain, Anggita Siregar, warga Medan Kota. Ia mengaku sempat memperkirakan suasana PRSU sudah ramai saat tiba di lokasi.
“Kami kira sudah ramai, ternyata masih sepi. Memang harga tiket cukup mahal. Tapi karena suka dengan Raim Laode, kami tetap datang,” ujarnya.
Anggita juga mengaku telah mendengar informasi mengenai harga makanan di area PRSU.
“Kami sudah makan sebelum masuk. Kalau nanti memang mahal, mungkin hanya beli minuman atau berbagi makanan dengan teman,” katanya.
Menanggapi sorotan mengenai harga tiket, Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution menjelaskan bahwa penyelenggaraan PRSU tahun ini berada di bawah pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
“PRSU kali ini diselenggarakan oleh pihak BUMD. Untuk urusan teknis seperti harga tiket dan lainnya, silakan ditanyakan langsung kepada direksinya,” kata Bobby.
Sementara itu, Direktur Utama BUMD bidang Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) Sumut, Ferry Indra, mengatakan penyelenggaraan PRSU tahun ini tidak menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Menurutnya, konsep yang diterapkan merupakan bagian dari upaya transformasi penyelenggaraan PRSU sehingga wajar apabila memunculkan berbagai tanggapan dari masyarakat.
“Kami memang sedang mencoba konsep baru. Tentu akan ada pro dan kontra, tetapi semua kritik dan masukan menjadi bahan evaluasi bagi kami,” ujarnya.
Ferry juga membantah anggapan bahwa PRSU benar-benar sepi pengunjung. Ia menyebut hingga Kamis (9/7/2026), jumlah pengunjung telah mencapai sekitar 25.400 orang.
“Kegiatan ini merupakan kolaborasi berbagai pihak dan tidak menggunakan APBD. Untuk persoalan parkir di luar kawasan PRSU menjadi kewenangan instansi terkait,” jelasnya.
Terkait harga tiket Rp35 ribu untuk tiket reguler dan Rp75 ribu untuk tiket konser, Ferry menilai tarif tersebut disesuaikan dengan berbagai kegiatan yang disajikan selama PRSU berlangsung.
“Kami menghadirkan banyak komunitas, berbagai perlombaan, hingga juri tingkat nasional. Masukan mengenai harga tiket tentu kami terima sebagai bahan evaluasi,” katanya.
Ia menambahkan, keputusan mengenai kemungkinan penyesuaian harga tiket berada di tangan penyelenggara acara (event organizer).
“Tujuan kami bukan semata mencari keuntungan, tetapi memberikan ruang bagi talenta-talenta Sumatera Utara untuk tampil di panggung yang lebih besar. Semua masukan masyarakat akan menjadi evaluasi ke depan,” tutup Ferry.
Sumber: Tribun Medan





















