TRABASNEWS – Operasi pencarian pasangan suami istri korban mobil Toyota Innova yang terjun ke jurang Sungai Lae Kombih resmi dihentikan setelah memasuki hari ketujuh, Senin (6/4/2026). Hingga operasi berakhir, tim SAR belum menemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun kendaraan yang mereka tumpangi.
Komandan Regu Golf Basarnas Medan, Romy Erwin Putra, mengatakan selama sepekan pencarian dilakukan secara intensif dengan menyisir aliran sungai dari lokasi kejadian hingga sejumlah titik hilir, namun hasilnya masih nihil.
“Selama tujuh hari pencarian, kami bersama tim gabungan sudah menyisir seluruh area sungai menggunakan drone dan penyisiran manual, tetapi belum ditemukan tanda-tanda keberadaan korban maupun mobil. Yang ditemukan hanya sebuah bantal yang diduga milik korban,” ujar Romy di Posko Pencarian Sikelang.
Menurutnya, salah satu kendala utama dalam proses evakuasi adalah kondisi sungai yang dalam dan sulit dipetakan, sehingga menyulitkan deteksi posisi kendaraan.
“Kedalaman sungai di lokasi belum diketahui secara pasti, itu yang menjadi hambatan besar. Bahkan posisi mobil sampai saat ini belum terdeteksi,” katanya.
Romy menegaskan penghentian operasi dilakukan sesuai prosedur standar Basarnas, yakni tujuh hari masa pencarian. Jika keluarga ingin pencarian diperpanjang, permintaan harus diajukan melalui pemerintah daerah setempat.
“Kalau ada permintaan perpanjangan, mekanismenya harus melalui pemerintah daerah, baik dari Pakpak Bharat maupun Pemko Subulussalam, lalu diteruskan ke Basarnas Medan. Untuk saat ini, SOP tujuh hari sudah selesai dan tim harus kembali,” jelasnya.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Senin malam (30/3/2026), ketika mobil Innova BK 1213 SP yang dikemudikan Rudi Simanjuntak bersama istrinya Risma Tumangger dilaporkan masuk ke jurang Sungai Lae Kombih di Dusun Buluh Didi, Desa Tanjung Mulia, Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat.
Meski operasi SAR resmi dihentikan, keluarga korban memastikan pencarian tidak akan berhenti. Perwakilan keluarga, S. Solin, menyebut pihak keluarga tetap berupaya mencari secara mandiri sambil menggelar doa bersama di rumah duka.
“Kami keluarga akan terus berusaha mencari. Selain itu, yasinan juga masih dilaksanakan selama tujuh malam berturut-turut di rumah duka,” ujar Solin.
Insiden ini kembali menambah daftar kecelakaan fatal di jalur nasional lintas Aceh–Sumut, khususnya kawasan Sungai Lae Kombih yang dikenal rawan kecelakaan. Warga berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan pagar pengaman dan perbaikan ruas jalan guna mencegah kejadian serupa terulang.
Sumber: Waspada



















