TRABASNEWS – Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali mengalami erupsi setelah terakhir kali tercatat meletus pada 2022. Aktivitas vulkanik tersebut membuat pemerintah menyiapkan evakuasi terhadap 2.451 warga dari dua desa yang berada di sekitar kawasan gunung api.
Erupsi terjadi pada Senin (31/8/2026) sekitar pukul 10.17 WIB. Saat erupsi, kolom abu vulkanik teramati membumbung hingga sekitar 3.500 meter di atas puncak.
Kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal dilaporkan bergerak ke arah timur dan tenggara.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan peningkatan aktivitas Gunung Sinabung menjadi perhatian karena masih terdapat kemungkinan terjadinya erupsi lanjutan.
“Erupsi ini merupakan erupsi awal dan masih ada potensi terjadi erupsi yang lebih besar,” ujar Berton.
Setelah erupsi tersebut, PVMBG meningkatkan status Gunung Sinabung dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga. Status baru itu mulai berlaku pada Senin (31/8/2026) pukul 12.30 WIB.
Menurut Berton, peningkatan status dilakukan berdasarkan hasil pemantauan terhadap aktivitas visual dan instrumental gunung api.
“Peningkatan status tersebut mulai berlaku pada Senin (31/8/2026) pukul 12.30 WIB berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental yang menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik,” katanya.
BPBD Sumatera Utara bersama pemerintah daerah kemudian menyiapkan langkah evakuasi bagi warga Desa Payung dan Desa Kuta Tengah, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo.
Kabid Penanganan Darurat Peralatan dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengatakan kedua desa tersebut perlu dikosongkan karena lokasinya relatif dekat dengan Gunung Sinabung.
“Berdasarkan hasil rapat koordinasi tadi malam, rencana hari ini warga dievakuasi. Desa Payung dan Desa Kuta Tengah jaraknya cukup dekat dengan Gunung Sinabung, sehingga desa itu harus dikosongkan,” kata Sri Wahyuni.
Sebanyak 2.051 warga Desa Payung direncanakan dipindahkan ke Desa Batukarang. Sementara 400 warga Desa Kuta Tengah akan dievakuasi menuju Desa Sukatepu.
Dengan demikian, total warga yang dipersiapkan untuk mengungsi mencapai 2.451 jiwa.
BPBD Sumut juga telah mengirimkan tenda untuk mengantisipasi kebutuhan tempat tinggal sementara bagi warga selama berada di lokasi pengungsian.
“Tenda sudah kita persiapkan. Nanti tinggal petunjuk dari BPBD Karo,” ujar Sri Wahyuni.
Namun, lokasi penempatan warga dan durasi pengungsian masih menunggu perkembangan aktivitas Gunung Sinabung serta arahan dari pihak berwenang.
Sri Wahyuni menyebut proses evakuasi nantinya akan melibatkan personel TNI dan Polri bersama unsur terkait lainnya.
“Untuk evakuasi dibantu TNI dan Polri karena itu kan di dalam TRC multisektor,” katanya.
BNPB mengimbau masyarakat yang berada di sekitar Gunung Sinabung agar meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi rekomendasi PVMBG.
Sebelum erupsi terjadi, alat pemantauan mencatat sejumlah aktivitas kegempaan. Tercatat 85 kali gempa vulkanik, satu kali gempa hembusan, serta satu kali tremor harmonik.
Berton menegaskan masyarakat tidak perlu panik, tetapi harus mengikuti perkembangan informasi resmi dan arahan petugas di lapangan.
“Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti seluruh rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh PVMBG,” kata Berton.
Gunung Sinabung sebelumnya berada pada Level II atau Waspada sejak 17 Mei 2023. Erupsi pada 31 Agustus 2026 menjadi aktivitas erupsi pertama yang kembali tercatat setelah gunung api tersebut terakhir mengalami erupsi pada 2022.
Sumber: CNN Indonesia























