TRABASNEWS – Kondisi sebuah sekolah dasar (SD) kelas jauh di Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, menjadi perhatian setelah video kondisi bangunannya beredar luas di media sosial.
Bangunan sekolah yang telah digunakan selama sekitar 22 tahun itu masih menggunakan dinding berbahan triplek. Sekolah tersebut diketahui berdiri sejak 19 Juli 2004 dan dibangun secara swadaya oleh masyarakat.
Kondisi tersebut terungkap setelah seorang guru, Romawati, membuat video yang memperlihatkan keadaan sekolah. Dalam rekaman itu terlihat bangunan sekolah terdiri dari tiga ruangan dengan dinding triplek dan atap seng.
Romawati mengatakan kondisi bangunan sudah memerlukan perhatian serius. Selain keterbatasan sarana, proses belajar mengajar juga harus dilakukan dengan jumlah guru yang sangat terbatas.
“Kelas satu sampai enam dibagi menjadi tiga kelas. Jadi satu ruangan satu orang guru pegang tiga kelas,” ujar Romawati.
Ia menjelaskan, hanya terdapat dua guru yang mengajar para siswa di sekolah tersebut. Video itu dibuat dengan harapan kondisi sekolah diketahui pemerintah sehingga mendapatkan bantuan pembangunan.
“Saya memohonkan kepada bapak kepala daerah Kabupaten Kampar untuk membantu bangunan sekolah kami ini, pak. Kami sangat berharap bantuan dari bapak, karena bangunan sekolah kami sudah darurat, pak,” ucapnya.
Menurut Romawati, keberadaan sekolah tersebut memiliki peran penting bagi masyarakat sekitar. Bahkan, sejumlah alumni sekolah itu disebut telah melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi dan menjadi sarjana.
Wabup Kampar Mengaku Baru Mengetahui
Viralnya kondisi sekolah tersebut akhirnya mendapat perhatian Pemerintah Kabupaten Kampar. Wakil Bupati Kampar Misharti bersama jajaran pemerintah kecamatan kemudian mendatangi lokasi untuk melihat langsung kondisi sekolah.
Misharti mengaku baru mengetahui keberadaan sekolah tersebut setelah informasi mengenai kondisi bangunannya disampaikan kepada pemerintah dan menjadi perhatian publik.
Menurutnya, sekolah tersebut merupakan kelas jauh dari SD Negeri 007 Desa Sungai Agung, Kecamatan Tapung. Karena statusnya sebagai kelas jauh, keberadaannya selama ini tidak tercatat secara langsung dalam laporan sekolah induk yang diterima pemerintah.
“Makanya pas saya dikasih tahu wartawan, saya bilang sekolah itu sudah berapa tahun, mereka bilang sejak 2004, berarti sudah 22 tahun. Kepemimpinan kami baru satu tahun,” kata Misharti.
Ia mempertanyakan mengapa kondisi sekolah tersebut tidak mendapat perhatian pada periode pemerintahan sebelumnya.
“Kenapa pemerintah tahun-tahun sebelumnya tidak dibenahi. Karena sekolah ini kelas jauh, memang tidak dilaporkan ke pemerintah. Yang dilaporkan hanya anak-anak di SDN 007 induknya, sehingga pemerintah tidak tahu ada ternyata sekolah di sini dan dibutuhkan masyarakat di sini,” jelasnya.
Pemkab Akan Membahas Pembangunan
Dalam kunjungannya, Misharti juga berbincang langsung dengan Romawati mengenai kondisi sekolah. Guru tersebut sempat merasa tidak enak karena khawatir video yang dibuatnya dianggap sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah.
“Saya jadi enggak enak, seakan-akan saya menjelekkan pemerintah. Saya kan tidak menjelekkan pemerintah,” kata Romawati.
Misharti justru menilai informasi tersebut membantu pemerintah mengetahui kondisi pendidikan yang sebelumnya belum diketahui.
“Saya pemerintah bersyukur juga, akhirnya pemerintah tahu ada sekolah ini. Kalau tidak ada publikasi ya kita tidak tahu,” ujarnya.
Pemkab Kampar selanjutnya akan membahas kondisi sekolah tersebut bersama Bupati Kampar untuk menentukan langkah penanganan.
Misharti membuka kemungkinan pemerintah ikut membantu pembangunan sekolah meskipun bangunan tersebut selama ini berdiri atas swadaya masyarakat.
“Jika nanti diambil keputusan misalnya, karena sekolah ini swadaya masyarakat, mungkin ya kita bisa bantu bangun dengan kondisi yang ada. Jadi, nanti tetap dilanjutkan sekolah di sini agar anak-anak bisa bersekolah. Kami support untuk pendidikan itu,” katanya.
Pemerintah Kabupaten Kampar menyatakan akan mencari solusi agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan sekaligus memperbaiki kondisi sarana pendidikan di lokasi tersebut.
Sumber: Kompas


















