TRABASNEWS – Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menunjukkan kecenderungan menurun dalam dua bulan terakhir. Kondisi tersebut menjadi dasar bagi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Badan Geologi untuk menurunkan status gunung api tersebut dari Level III (Siaga) menjadi Level II (Waspada).
Penurunan status tersebut disampaikan melalui surat bernomor 1764.Lap/GL.03/BGL/2026 yang diterima Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Sinabung pada Sabtu (17/10/2026).
Sebelumnya, status Gunung Sinabung sempat dinaikkan ke Level III setelah mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026. Sejak kejadian tersebut, aktivitas gunung api yang berada di Kabupaten Karo itu terus dipantau oleh petugas untuk mengetahui perkembangan kondisi vulkaniknya.
Petugas Pos PGA Sinabung, Armen Putra, membenarkan adanya perubahan status tersebut. Menurutnya, penurunan tingkat aktivitas dilakukan setelah hasil pengamatan menunjukkan kondisi vulkanik yang cenderung lebih stabil dibandingkan periode sebelumnya.
“Iya benar, kemarin kita sudah menerima surat dari Badan Geologi terkait penurunan status Gunung Sinabung. Melihat aktivitas yang memang cenderung menurun pascaerupsi bulan Agustus lalu, maka diputuskan statusnya diturunkan dari Siaga ke Waspada,” ujar Armen, Minggu (18/10/2026).
Armen menjelaskan, hasil pemantauan selama dua bulan terakhir memperlihatkan adanya penurunan aktivitas vulkanik dan kegempaan. Meski demikian, kondisi Gunung Sinabung masih mengalami perubahan atau fluktuasi sehingga pemantauan tetap dilakukan secara berkelanjutan.
Berdasarkan catatan kegempaan pada periode 8–15 Oktober 2026, tercatat empat kali gempa hembusan, dua kali gempa frekuensi rendah, lima kali gempa hybrid atau fase banyak, tujuh kali gempa vulkanik dalam, satu kali gempa tektonik lokal, 39 kali gempa tektonik jauh, serta satu kali gempa getaran banjir.
Selain data kegempaan, pengamatan terhadap deformasi atau perubahan bentuk tubuh gunung juga menjadi bagian dari evaluasi aktivitas vulkanik. Data Electronic Distance Measurement (EDM) menunjukkan pola yang berfluktuasi, dengan kecenderungan deflasi pada akhir periode pengamatan. Sementara itu, data tiltmeter di Stasiun Laukawar juga memperlihatkan indikasi deflasi pada salah satu sumbunya.
Dari hasil pengamatan visual, intensitas hembusan asap di puncak Gunung Sinabung turut mengalami penurunan. Asap yang terlihat semakin tipis dengan warna yang cenderung lebih terang dibandingkan sebelumnya.
Penurunan jumlah gempa vulkanik dalam dan gempa tektonik yang bersumber di sekitar gunung juga menjadi salah satu indikator dalam evaluasi tingkat aktivitas. Kondisi tersebut menunjukkan potensi letusan yang lebih rendah, meskipun bukan berarti ancaman erupsi telah sepenuhnya hilang.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Walaupun status Gunung Sinabung telah diturunkan menjadi Level II atau Waspada, masyarakat tetap diminta memperhatikan rekomendasi keselamatan dari Badan Geologi.
Dalam rekomendasinya, masyarakat dan pengunjung diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Sinabung. Pembatasan juga diberlakukan pada sektor tenggara dengan jarak empat kilometer dari puncak.
Masyarakat di sekitar kawasan gunung diharapkan terus mengikuti informasi resmi dari petugas pengamatan dan instansi berwenang. Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi kemungkinan perubahan aktivitas vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Penurunan status ini menjadi perkembangan positif setelah aktivitas Gunung Sinabung meningkat pada Agustus lalu. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena kondisi gunung api masih dapat berubah mengikuti perkembangan aktivitas di dalamnya.
Sumber: Tribun






















