TRABASNEWS — Seorang nenek di Kota Medan memilih mengadu ke anggota Pemuda Pancasila setelah ponselnya tak kunjung dikembalikan oleh teknisi, meski telah membayar biaya perbaikan sebesar Rp150.000.
Peristiwa itu terjadi pada pertengahan April 2026. Nenek tersebut datang ke pos penjagaan kantor Pemuda Pancasila di Jalan Sutrisno, Medan, dalam kondisi kebingungan karena ponsel miliknya belum juga kembali.
Anggota Komando Inti Mahatidana (Koti) Pemuda Pancasila, Taufik (58), yang saat itu bertugas, mengaku tersentuh melihat kondisi sang nenek.
“Saya iba lihat ibu itu, seperti melihat ibu saya sendiri. Makanya saya berusaha membantu,” ujar Taufik.
Nenek tersebut menjelaskan bahwa ia sebelumnya menyerahkan ponselnya kepada seorang teknisi untuk diperbaiki. Namun setelah beberapa waktu, teknisi tersebut sulit ditemui. Bahkan, ia sempat diminta membayar biaya servis oleh rekan teknisi lain.
Merespons laporan itu, Taufik kemudian meminta bantuan rekannya, Juarsa Tarigan (44), untuk menelusuri keberadaan ponsel tersebut.
“Awalnya teknisi yang dimaksud tidak ada di tempat saat kami datangi,” kata Juarsa.
Beberapa hari kemudian, nenek itu kembali datang dan menginformasikan bahwa teknisi sudah bisa ditemui. Dari hasil penelusuran, diketahui bahwa ponsel tersebut sempat berpindah tangan ke seseorang berinisial B.
“Setelah kami telusuri, ternyata ponsel itu ditahan karena ada urusan biaya suku cadang. Uangnya sempat dipakai oleh teknisi,” jelas Juarsa.
Setelah melalui serangkaian pencarian, Juarsa akhirnya berhasil menemukan ponsel tersebut dan membawanya kembali. Ponsel itu kemudian diserahkan langsung kepada sang nenek di kantor Pemuda Pancasila.
Taufik dan Juarsa mengaku lega bisa membantu menyelesaikan persoalan tersebut.
“Yang penting ibu itu sudah tenang dan ponselnya kembali,” tutup Taufik.
Sumber: kompas




















