TRABASNEWS– Kondisi akses pendidikan di wilayah pedalaman Nias Selatan, Sumatera Utara, kembali menjadi perhatian. Sejumlah pelajar di Desa Fondakeraya, Kecamatan Ulususua, harus menyeberangi sungai tanpa jembatan untuk menuju sekolah.
Salah seorang pelajar, Asdar (17), mengungkapkan bahwa sungai tersebut merupakan akses utama yang setiap hari dilaluinya bersama pelajar lainnya.
Persoalan menjadi lebih berisiko ketika hujan deras menyebabkan debit sungai meningkat. Dalam kondisi banjir besar, Asdar dan adiknya memilih tidak berangkat sekolah karena khawatir terseret arus.
“Kemarin itu pernah banjir, tingginya pernah 4 meter, nggak berani kami sekolah,” kata Asdar saat dihubungi, Selasa (22/9/2026).
Menurut Asdar, kondisi sungai dapat berubah dengan cepat. Hujan yang turun pada sore hari bahkan bisa menyebabkan pelajar yang sebelumnya berangkat dengan kondisi cuaca cerah tidak dapat kembali ke rumah.
“Kadang kita kalau banjir kayak gitu pas pulang sekolah, paginya padahal cuacanya bersih, bagus dan eh sorenya hujan dan tiba-tiba banjir begitu, jadi kita wajib nginap di rumah saudara gitu,” ujarnya.
Sempat Terjebak di Antara Dua Aliran Sungai
Risiko tersebut pernah dialami Asdar dan keluarganya. Saat hujan deras turun, mereka sempat terjebak karena akses menuju sekolah maupun rumah sama-sama tertutup banjir.
“Hujan semakin turun, kami juga kedinginan berteduh di bawah pohon, kami juga nggak bisa balik ke sekolah dan nggak bisa menuju ke rumah, soalnya udah kehalang banjir dua-duanya,” ungkap Asdar.
Setelah hujan mereda dan permukaan air mulai turun, Asdar bersama adik dan sepupunya akhirnya memberanikan diri menyeberangi sungai.
“Di situ kita paksakan saja untuk melewati banjirnya,” katanya.
Dalam video yang beredar di media sosial, Asdar terlihat menggendong adiknya sekaligus menuntun sepupunya ketika melewati sungai.
Penyeberangan tersebut dilakukan saat ketinggian air diperkirakan mencapai 60 hingga 100 sentimeter. Jarak sungai yang diseberangi sekitar 50 meter.
Asdar menjelaskan, dirinya memilih berjalan bersama adik dan sepupunya karena menurutnya cara tersebut dapat membuat mereka lebih mudah saling membantu menghadapi arus.
“Mungkin ada yang bertanya kenapa nggak satu-satu kamu bantu untuk menyeberangi sungai. Alasannya akan lebih bagus kalau kita ini bergandengan walaupun risiko tinggi, dengan bergandengan makin susah terbawa air,” jelasnya.
Setiap Hari Lewati Empat Sungai
Kondisi geografis membuat perjalanan Asdar menuju sekolah tidak mudah. Ia mengaku harus melewati empat aliran sungai setiap hari.
Selain menjadi jalur bagi para pelajar, sungai tersebut juga digunakan masyarakat untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Sebenarnya terdapat jalur darat alternatif menuju sekolah. Namun, jalan yang melewati kawasan hutan tersebut kini tidak lagi mudah digunakan karena ditumbuhi ilalang dan dipenuhi kayu serta pohon yang tumbang.
Asdar menyebut jalan tersebut pernah dikerjakan sekitar 2023 dan sudah masuk tahap pengerasan tanah. Namun, pembangunan kemudian berhenti sehingga jalur itu terbengkalai.
“Enggak ada lagi orang yang berniat melewati situ, terbengkalai. Apalagi di jalan itu banyak kayu di jalan, pohon, ilalang, jadi sudah susah dilewati lagi,” tuturnya.
Padahal, jalur darat tersebut sebenarnya lebih dekat dibandingkan jalur sungai.
Menurut Asdar, jarak dari rumah menuju sekolah melalui jalur darat hanya sekitar 4,5 kilometer. Sementara jika menggunakan jalur yang melewati sungai, jaraknya mencapai sekitar 6,5 kilometer.
Berharap Jalan Alternatif Kembali Dibuka
Asdar berharap pemerintah atau pihak terkait dapat memperbaiki kembali jalan alternatif tersebut. Dengan begitu, para pelajar tidak lagi harus mempertaruhkan keselamatan ketika menyeberangi sungai, terutama saat musim hujan.
“Harapan kami, sebagai aku dari anak pendalaman di sini, harapannya cuma ingin jalan alternatif kami itu, yang dekat di sekolah kami, ingin ada dari petugas yang ingin membaguskannya dan membersihkannya biar kami nggak melewati sungai lagi,” harap Asdar.
Ia mengaku dirinya sudah terbiasa melintasi sungai tersebut. Namun, kekhawatiran terbesar justru ditujukan kepada anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar.
“Asdar nggak takut kalau melintas, tapi kalau anak SD, Asdar takut mereka terbawa arus,” pungkasnya.
Sumber: Kompascom



















