TRABASNEWS – Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) membuka peluang memperluas perannya dalam mempersiapkan pekerja migran Indonesia (PMI) sebelum diberangkatkan ke luar negeri.
Hal tersebut disampaikan Rektor UMSU Prof. Dr. Akrim, M.Pd saat membuka kegiatan pelatihan Diplomasi Islam Berkemajuan yang digelar Lembaga Hubungan Kerja Sama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah bersama UMSU di Auditorium Kampus UMSU, Jalan Kapten Muchtar Basri, Medan.
Kegiatan yang berlangsung 22-24 September 2026 itu diawali dengan Dialog Pra Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah dengan tema “Diplomasi Kemanusiaan dan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia: Perspektif Pemerintah dan Parlemen.”
Menurut Prof. Akrim, perguruan tinggi mempunyai sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk membekali calon PMI, mulai dari kompetensi kerja hingga kemampuan bahasa sesuai negara tujuan.
“Kita mungkin akan menyediakan tempat pelatihan-pelatihan pekerja di UMSU sebelum berangkat ke luar negeri. Nantinya kita bisa berkolaborasi dengan LHKI untuk memfasilitasi,” ujar Prof. Akrim.
Ia mengatakan, peluang kerja bagi tenaga Indonesia di luar negeri cukup terbuka. Bahkan, UMSU telah menerima permintaan tenaga kerja dari sejumlah perusahaan di Malaysia.
Kebutuhan tersebut antara lain berasal dari sektor makanan dan minuman serta bidang kesehatan.
Prof. Akrim menyebut UMSU sebelumnya telah mendampingi perusahaan asal Malaysia, Hasani Group, dalam proses perekrutan 17 pekerja dari Medan.
“Perusahaan-perusahaan dari Malaysia pun senantiasa sudah meminta pekerja ke UMSU. Kita sudah mulai mencari tenaga kerja, khususnya yang saat ini paling banyak dibutuhkan di bidang F&B atau restoran, dan termasuk juga di bidang kesehatan,” katanya.
Selain Malaysia, UMSU melihat peluang penempatan PMI juga terbuka di sejumlah negara lain. Untuk mendukung hal tersebut, UMSU dapat memanfaatkan berbagai program studi yang dimiliki, termasuk kedokteran, keperawatan, farmasi dan kebidanan.
Namun, kemampuan berbahasa menjadi salah satu aspek yang dinilai penting. Terlebih apabila tenaga kerja Indonesia nantinya ditempatkan di kawasan Timur Tengah maupun Eropa.
“Ini tugasnya UMSU untuk mempersiapkan tenaga kerja yang siap digunakan, yang siap pakai, khususnya dari sisi kebahasaan,” ucapnya.
UMSU juga telah memperkuat pusat bahasa yang diharapkan dapat memberikan pembekalan kepada calon pekerja migran. Dengan demikian, calon PMI tidak hanya memiliki keterampilan sesuai bidang pekerjaan, tetapi juga kemampuan berkomunikasi di negara tujuan.
Prof. Akrim menegaskan, upaya menyiapkan pekerja migran harus berjalan bersamaan dengan aspek perlindungan. Karena itu, ia menilai dibutuhkan sinergi antara pemerintah, Muhammadiyah, perguruan tinggi dan komunitas.
“Pemerintah punya kebijakan dan kewenangan, Muhammadiyah memiliki jaringan gerakan, perguruan tinggi punya sumber daya dan pengetahuan, dan komunitas punya pengalaman. Di sinilah perlunya kita berkolaborasi,” tegasnya.
UMSU Sudah Dampingi Anak PMI di Malaysia
UMSU diketahui telah memiliki pengalaman dalam kegiatan yang berkaitan dengan pekerja migran Indonesia di Malaysia.
Selama sekitar tiga tahun terakhir, UMSU bersama Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia menjalankan program pengabdian masyarakat, termasuk pendampingan anak-anak PMI melalui sekitar 50 sanggar.
Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk memperkuat keterlibatan UMSU dalam isu pekerja migran sekaligus memperluas jaringan kerja sama Muhammadiyah di luar negeri.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Syafiq Mughni, M.A dalam kegiatan tersebut menyampaikan materi mengenai “Internasionalisasi Muhammadiyah dan Islam Berkemajuan.”
Ia mengatakan, perkembangan Muhammadiyah kini tidak hanya berlangsung dalam lingkup nasional. Jaringan organisasi tersebut telah berkembang ke berbagai negara.
“Dunia sekarang sangat jelas menuntut bahwa Muhammadiyah harus hadir di dalam kancah internasional. Jangan menjadi organisasi yang berada di sudut dunia ini, tetapi menjadi sebuah organisasi yang berada di tengah-tengah pusaran global,” ujar Prof. Syafiq.
Menurutnya, saat ini terdapat Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di sekitar 30 negara. Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki sejumlah organisasi mitra atau sister organization di berbagai negara.
Jaringan tersebut bergerak dalam berbagai bidang, termasuk dakwah, pendidikan dan kegiatan sosial. Muhammadiyah juga terus membangun hubungan dengan lembaga-lembaga lain di luar organisasi yang memiliki perhatian terhadap isu serupa.
Prof. Syafiq menilai meningkatnya perhatian masyarakat internasional terhadap Muhammadiyah menjadi bagian dari perkembangan jejaring organisasi tersebut.
Pelatihan diplomasi yang digelar di UMSU diharapkan dapat memperkuat kapasitas kader Muhammadiyah dalam menjalankan kerja kemanusiaan sekaligus membangun hubungan internasional.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, Ketua LHKI PP Muhammadiyah Dr. Imam Addaruqutni, Sekretaris LHKI PP Muhammadiyah Dra. Yayah Khisbiyah, Bendahara Puti Hasanatu Syadiah, Ketua BPH UMSU Prof. Dr. Agussani, MAP, serta jajaran pimpinan UMSU dan pimpinan fakultas.
Sumber: Viva Medan


















