TRABASNEWS – Menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi di media sosial, Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Jalaliyah Bandar Tinggi menegaskan pentingnya memperkuat fondasi keimanan generasi muda. Komitmen tersebut disampaikan dalam prosesi wisuda puluhan Syekh Muda dan Syarifah yang berlangsung khidmat di Aula Akbar Pondok Pesantren DR Syekh Salman Daim, Bandar Tinggi, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan yang dihadiri ratusan jemaah serta sejumlah tokoh lintas sektoral ini menjadi momentum penting untuk memperkuat peran para lulusan dalam membimbing masyarakat, khususnya Generasi Z atau Gen-Z yang menghadapi berbagai tantangan spiritual di era digital.

Pimpinan Tarekat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Jalaliyah, Tuan Guru DR Syekh Mhd Nur Ali, S.Ag., M.Hum., dalam amanatnya menegaskan bahwa gelar Syekh Muda dan Syarifah bukan sekadar bentuk pengakuan atas pencapaian spiritual, tetapi juga amanah besar untuk memberikan manfaat bagi umat.
“Para wisudawan dan wisudawati harus mampu bertransformasi menjadi agen spiritual pribadi atau Personal Spirituality Agent yang aktif di tengah umat. Kehadiran mereka diharapkan dapat memberikan bimbingan, menanamkan nilai-nilai keimanan, serta menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Tuan Guru Syekh Mhd Nur Ali.
Menurutnya, perkembangan zaman menuntut para pembimbing spiritual untuk terus beradaptasi dengan perubahan pola komunikasi dan perilaku masyarakat. Dakwah tidak cukup hanya dilakukan melalui pendekatan konvensional, tetapi juga perlu menjangkau ruang digital yang kini menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.
Gen-Z Menghadapi Tantangan Ideologi di Media Sosial
Dalam orasinya, Tuan Guru Syekh Mhd Nur Ali turut menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda di tengah derasnya arus informasi digital. Media sosial, menurutnya, tidak hanya menjadi sarana komunikasi dan pertukaran pengetahuan, tetapi juga ruang penyebaran beragam pandangan mengenai agama, kepercayaan, dan kehidupan.

Ia mengingatkan bahwa paparan informasi tanpa disertai kemampuan berpikir kritis dan pemahaman keagamaan yang memadai dapat membuat generasi muda kesulitan membedakan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dengan narasi yang menyesatkan.
“Tantangan ke depan tidak lagi bersifat konvensional. Kita melihat bagaimana Gen-Z memanfaatkan sekaligus dipengaruhi oleh media sosial secara masif. Ada gerakan di ruang siber yang secara perlahan menggeser paradigma manusia dari teisme menuju ateisme,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kondisi tersebut perlu disikapi melalui pendidikan spiritual yang kuat, dialog yang terbuka, serta pendekatan dakwah yang mampu menjawab pertanyaan dan kegelisahan generasi muda secara bijaksana.
“Di sinilah para Syekh Muda dan Syarifah harus hadir sebagai benteng ideologis dan jangkar akhlak. Mereka harus mampu membimbing generasi muda agar memiliki pegangan keimanan yang kokoh, sekaligus bijak dalam menyikapi berbagai informasi yang beredar di media sosial,” tegas Tuan Guru.
Lahirkan Pembimbing Spiritual yang Adaptif
Melalui prosesi wisuda ini, Pondok Pesantren DR Syekh Salman Daim menegaskan komitmennya untuk melahirkan generasi penerus yang tidak hanya memiliki kemampuan dalam mengamalkan dan membimbing zikir, tetapi juga mampu memahami dinamika kehidupan modern.
Para Syekh Muda dan Syarifah diharapkan dapat mengembangkan pendekatan dakwah yang sejuk, rasional, komunikatif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama kalangan anak muda yang semakin akrab dengan teknologi digital.
Kemampuan memanfaatkan media sosial secara positif dinilai menjadi salah satu aspek penting agar pesan-pesan keagamaan dapat disampaikan secara lebih luas, mudah dipahami, serta tidak terjebak dalam pola komunikasi yang kaku dan berjarak dengan generasi muda.
Selain memperkuat pemahaman agama, para lulusan juga diharapkan mampu menanamkan nilai-nilai akhlak, toleransi, tanggung jawab, dan kepedulian sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Dengan demikian, keberadaan Syekh Muda dan Syarifah diharapkan tidak hanya memberikan bimbingan spiritual di lingkungan tarekat, tetapi juga berkontribusi dalam membangun karakter generasi muda di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Prosesi wisuda ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, kemaslahatan umat, serta memohon keteguhan iman dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.
Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penguatan spiritualitas di era digital membutuhkan peran bersama, baik melalui pendidikan, keteladanan, maupun pemanfaatan teknologi secara bijak, agar generasi muda mampu menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai keimanan dan akhlak.























