Jakarta, 3 Juli 2026 – Tepat seribu hari telah berlalu sejak eskalasi besar konflik di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023. Namun, bagi jutaan warga Palestina, waktu seolah berhenti di tengah reruntuhan, kelaparan, kehilangan, dan ketidakpastian. Angka demi angka yang tercatat selama hampir tiga tahun terakhir bukan hanya statistik, melainkan juga tentang potret keluarga yang tercerai-berai, anak-anak yang kehilangan masa depan, sebuah krisis kemanusiaan yang terus berlangsung tanpa akhir yang pasti – Genocide of humanity – Pemusnahan umat manusia di Palestina.
Berdasarkan laporan kemanusiaan yang dirangkum hingga memasuki hari ke-1.000 konflik di Palestina, sedikitnya 73.066 jiwa dilaporkan meninggal dunia. Di antara mereka terdapat lebih dari 21.500 anak-anak, lebih dari 1.700 tenaga kesehatan, dan 262 jurnalis. Bahkan, otoritas Kementerian Kesehatan di Gaza memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa lebih banyak, termasuk mereka yang masih tertimbun reruntuhan atau meninggal akibat kelaparan, penyakit, dan tidak tersedianya fasilitas layanan kesehatan yang layak. Di sisi lain, tercatat lebih dari 173.480 orang mengalami luka-luka. (Source: aljazeera.com & anadolu agency).

Dalam kurun 1.000 hari tersebut, Gaza mengalami kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sekitar 90 persen wilayah Gaza mengalami kerusakan, sementara sebagian besar kawasan tidak lagi layak dihuni. Krisis pangan pun semakin memburuk akibat pembatasan distribusi bantuan kemanusiaan. Diperkirakan hampir 400.000 warga hanya mampu makan setidaknya sekali sehari, sementara lebih dari 62 persen persediaan obat-obatan layanan kesehatan primer telah habis. Rumah sakit yang masih beroperasi harus bekerja di tengah keterbatasan listrik, obat, bahan bakar, dan tenaga medis. (Source: aljazeera.com & entesaf.org)
Konflik berkepanjangan di Palestina tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga menghancurkan sistem kehidupan masyarakat. Anak-anak kehilangan akses pendidikan. Keluarga hidup berpindah-pindah di tenda pengungsian. Ibu melahirkan tanpa fasilitas kesehatan memadai. Ribuan penyandang disabilitas dan lansia hidup tanpa alat bantu maupun layanan medis.
Perserikatan Bangsa-Bangsa telah berulang kali mengingatkan bahwa Gaza berada di ambang bencana kelaparan massal. Pembatasan masuknya bantuan kemanusiaan menyebabkan distribusi makanan, air bersih, obat-obatan, hingga bahan bakar menjadi sangat terbatas. Dalam situasi seperti ini, setiap paket pangan, setiap layanan kesehatan, dan setiap liter air bersih menjadi penopang kehidupan.
Di tengah situasi yang sangat sulit, Dompet Dhuafa sebagai Lembaga Kemanusiaan Global terus berupaya memastikan amanah masyarakat Indonesia dapat menjangkau warga Palestina. Selama tiga tahun terakhir, Dompet Dhuafa bekerja melalui berbagai jalur kemanusiaan, termasuk kolaborasi dengan pemerintah Indonesia, jejaring kemanusiaan internasional, dan mitra-mitra lokal di Gaza agar bantuan tetap dapat masuk meski akses sangat terbatas.
Rangkaian program kemanusiaan yang dijalankan untuk Palestina diantaranya adalah Distribusi paket pangan darurat bagi keluarga pengungsi, Pengiriman obat-obatan, alat kesehatan, dan bahan medis habis pakai termasuk dukungan operasional ambulans dan layanan medis di Gaza dan bantuan bahan bakar untuk rumah sakit, Pengadaan perlengkapan musim dingin seperti selimut dan matras, Dukungan dapur umum dan distribusi makanan siap saji, Penyediaan air bersih melalui pembangunan sumur dan distribusi air, Pengiriman truk-truk kontainer bantuan kemanusiaan melalui Mesir bersama misi kemanusiaan Indonesia.
Pada 2026, Dompet Dhuafa kembali mengirimkan tim kemanusiaan menuju Mesir dengan membawa kontribusi berupa kontainer berisi bahan pangan dan alat kesehatan. Ambulans wakaf yang telah beroperasi di Gaza juga terus melayani warga yang menjadi korban konflik, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan medis di tengah keterbatasan dan Dompet Dhuafa juga terlibat langsung dalam pengiriman relawan kemanusiaan melalui solidaritas global untuk Palestina di Global Sumud Flotilla dan Global Peace Convoy Indonesia.
Selain bantuan darurat, Dompet Dhuafa juga menyiapkan dukungan untuk fase pemulihan (recovery), meliputi penguatan fasilitas kesehatan, penyediaan alat medis, hingga rehabilitasi layanan publik ketika kondisi memungkinkan.
Solidaritas Indonesia Tidak Pernah Padam
Selama hampir tiga tahun terakhir, masyarakat Indonesia menunjukkan solidaritas yang luar biasa terhadap Palestina. Donasi yang dihimpun melalui berbagai lembaga kemanusiaan, salah satunya Dompet Dhuafa, menjadi bukti bahwa jarak geografis tidak mengurangi kepedulian terhadap penderitaan sesama manusia.
Bagi Dompet Dhuafa, Palestina bukan sekadar isu internasional, tetapi panggilan kemanusiaan. Setiap amanah yang diberikan masyarakat diupayakan agar menjadi makanan bagi mereka yang lapar, obat bagi yang terluka, perlindungan bagi pengungsi, serta secercah harapan bagi anak-anak yang tumbuh di tengah perang.
Seribu hari adalah pengingat bahwa krisis kemanusiaan di Palestina belum berakhir. Di balik setiap angka terdapat wajah-wajah manusia yang masih menanti keselamatan, keadilan, dan kehidupan yang layak.
Ketika dunia mulai lelah membicarakan Palestina, justru di saat itulah kepedulian tidak boleh berhenti. Sebab kemanusiaan tidak mengenal batas negara, agama, maupun bangsa. Solidaritas, doa, advokasi, dan bantuan nyata merupakan bentuk ikhtiar untuk memastikan bahwa harapan tetap hidup bagi jutaan warga Palestina yang hingga hari ini masih bertahan di tengah reruntuhan.
“Palestina adalah bumi para Nabi, tanah lahir tiga agama suci. Palestina bukan hanya tentang sebuah wilayah yang dilanda konflik, tetapi tentang menjaga nilai kemanusiaan agar tetap hidup. Selama masih ada rakyat yang membutuhkan pertolongan, Dompet Dhuafa akan terus menjadi bagian dari ikhtiar kemanusiaan tersebut,” menjadi semangat yang terus dibawa dalam setiap langkah misi kemanusiaan untuk Palestina.
Penulis:
Dian Mulyadi – Deputy Corporate Secretary Dompet Dhuafa





















