TRABASNEWS – Sejumlah pelajar di Kota Medan harus mempertaruhkan keselamatan mereka setiap hari demi bisa pergi dan pulang sekolah. Mereka nekat menyeberangi aliran Sungai Deli dengan berjalan di atas pipa air, karena jembatan penghubung yang sebelumnya digunakan sudah ambruk sejak 2024.
Aksi berbahaya ini terjadi di perbatasan Kecamatan Medan Maimun dan Medan Johor. Meski hanya berpijak pada pipa berdiameter sekitar 30 hingga 40 sentimeter, para pelajar tetap melintasinya di ketinggian belasan meter dari permukaan sungai.
Pantauan di lokasi menunjukkan, panjang pipa yang dilalui mencapai sekitar 50 hingga 60 meter. Para pelajar terlihat melintas tanpa alat pengaman, bahkan sebagian sudah terbiasa melakukan hal tersebut.
Salah seorang pelajar, Zaki, mengaku awalnya merasa takut saat pertama kali mencoba.
“Awalnya takut, jadi merangkak. Tapi sekarang sudah biasa. Biasanya lewat sini kalau pulang sekolah,” ujarnya.
Kondisi ini terjadi karena jembatan lama yang dulunya merupakan bekas jalur rel kereta api sudah tidak bisa digunakan lagi. Jembatan tersebut sebelumnya menjadi akses penting yang menghubungkan wilayah Medan Maimun, Medan Polonia, dan Medan Johor.
Menurut Lestari, Kepala Lingkungan setempat, pihak warga dan pemerintah sebenarnya sudah berulang kali melarang para pelajar menggunakan jalur pipa tersebut.
“Kami sudah sering menegur. Tapi masih ada saja yang nekat, mungkin karena jalurnya lebih dekat atau alasan biaya,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan, sebagian besar pelajar yang melintas berasal dari wilayah Medan Polonia. Diduga, tidak semua orang tua mengetahui bahwa anak-anak mereka mengambil jalur berbahaya tersebut.
Sebelumnya, jembatan itu sempat diperbaiki oleh warga dan dermawan pada 2023. Namun, hanya bertahan sekitar satu tahun sebelum akhirnya roboh total.
Kondisi ini memicu keprihatinan, mengingat lokasi tersebut berada di kawasan perkotaan besar. Akses pendidikan yang aman seharusnya bisa terpenuhi tanpa harus mengorbankan keselamatan pelajar.
Sumber : Tribun Medan




















