TRABASNEWS – Guntur Sugoro (41), satpam salah satu dapur program makan bergizi gratis (MBG) di Kota Medan, memilih pulang dari rumah sakit karena tidak memiliki biaya untuk menjalani operasi pengangkatan peluru di tubuhnya.
Korban yang sebelumnya dirawat di RS Pirngadi Medan itu diketahui menjadi korban percobaan perampokan atau begal hingga terkena tembakan senapan angin di bagian punggung.
Adik korban, Budi Kurniadi, mengatakan kakaknya sudah meninggalkan rumah sakit sejak Selasa malam karena keterbatasan biaya operasi.
“Abang saya sudah pulang hari Selasa malam karena memang tidak punya uang untuk cabut peluru. Kami sempat tanya-tanya, biayanya sekitar Rp 50 juta dan itu pun di rumah sakit lain, bukan di Pirngadi,” ujar Budi, Kamis (21/5/2026).
Menurut Budi, kondisi Guntur saat ini masih lemah dan belum bisa kembali bekerja seperti biasa. Peluru disebut masih bersarang di bagian punggung dekat tulang rusuk korban.
Ia menjelaskan, selama menjalani perawatan di RS Pirngadi, biaya pengobatan ditanggung pemerintah. Namun, pihak keluarga masih bingung terkait prosedur operasi pengangkatan peluru yang disarankan dilakukan di rumah sakit swasta.
“Kalau biaya perawatan kemarin tidak bayar karena ditanggung pemerintah. Tapi untuk operasi kami belum tahu bagaimana prosedurnya,” katanya.
Sebelumnya, kondisi Guntur sempat memprihatinkan saat menjalani perawatan di rumah sakit. Korban tampak terbaring lemah di atas ranjang dengan perban masih menempel di bagian punggung sebelah kanan akibat luka tembak yang dialaminya.
Rasa sakit sesekali membuat korban meringis karena proyektil peluru masih berada di dalam tubuhnya. Hingga kini, pihak keluarga berharap ada bantuan agar Guntur bisa segera menjalani operasi dan pulih kembali.
Sumber: Tribun Medan




















