TRABASNEWS – Video sejumlah siswi SMK di Kabupaten Garut menangis histeris usai rambut mereka dipotong paksa oleh guru viral di media sosial. Kejadian tersebut menuai sorotan publik karena para siswi diketahui mengenakan hijab dan mengaku tidak menerima tindakan razia yang dilakukan di lingkungan sekolah.
Peristiwa itu disebut terjadi usai para siswi mengikuti pelajaran olahraga. Dalam video yang beredar, beberapa siswi terlihat menangis di dalam kelas setelah rambut mereka digunting karena dianggap melanggar aturan sekolah akibat mewarnai rambut.
Pendamping hukum para siswi, Asep Muhidin, mengatakan pihaknya menerima permintaan bantuan dari sejumlah siswa yang merasa keberatan atas tindakan tersebut.
“Ada sekitar tujuh sampai delapan siswi yang datang meminta pendampingan. Mereka mengadu karena merasa tidak nyaman dan keberatan rambutnya dipotong secara paksa,” ujar Asep, Selasa (5/5/2026).
Menurutnya, jumlah siswi yang mengalami pemotongan rambut diperkirakan mencapai belasan orang. Ia menyebut razia dilakukan oleh oknum guru setelah siswa masuk ke kelas.
“Informasi yang kami dapat, para siswi diminta membuka kerudung untuk diperiksa rambutnya. Setelah itu rambut mereka langsung digunting karena dianggap diwarnai,” katanya.
Asep menilai tindakan tersebut tidak tepat dilakukan terhadap siswi berhijab. Ia menyebut pendekatan disiplin seharusnya dilakukan dengan cara yang lebih bijak.
“Rambut bagi perempuan adalah mahkota. Apalagi mereka berhijab. Seharusnya sekolah bisa memberikan pembinaan tanpa tindakan yang membuat siswa merasa malu dan trauma,” ucapnya.
Saat ini para siswi telah mendapatkan pendampingan psikologis dari UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Garut. Konseling dilakukan untuk mengantisipasi dampak trauma terhadap para korban.
Sementara itu, Kepala SMKN 2 Garut, Nur Fuqon, membenarkan adanya pemotongan rambut terhadap sejumlah siswi. Ia mengatakan tindakan itu dilakukan sebagai bagian dari penegakan aturan sekolah terkait kedisiplinan siswa.
“Guru melakukan tindakan tersebut karena ada laporan mengenai siswa yang mewarnai rambut. Selama berada di sekolah, siswa menjadi tanggung jawab kami,” kata Nur Fuqon.
Pihak sekolah, lanjut dia, telah meminta maaf kepada orang tua maupun para siswi atas kejadian yang menimbulkan polemik tersebut.
“Kami sudah menyampaikan permintaan maaf dan berupaya menyelesaikan persoalan ini secara kekeluargaan,” pungkasnya.
Berbagai sumber




















